Minggu, 04 Juli 2010

PEMBAGIAN KERJA SECARA SEKSUAL

TEORI PSIKO ANLISA
Pada pembahasan ini, akan mebicarakan teori Nature secara mendalam. Teori ini beranggapan bahwa sudah menjadi kodrat wanita untuk menjadi lebih lemah dan karena itu tergantung kepada laki-laki dalam banyak hal untuk hidupnya. Teori ini (nature) sudah ada sejak permulaan lahirnya filsafat di dunia Barat. Aristoteles misalnya beranggapan bahwa wanita adalah laki-laki yang tidak lengkap.
Wanita kurang bisa menggerami, atau memasak. Darah yang dikeluarkan pada masa haitnya ke taraf yang lebih sempurna menjadi air mani. Karena itu wanita tidak bisa menyumbangkan air mani dalam proses pembentukan janin manusia, wanita hanya menyumbangkan air mani dalam proses pembentukan janin manusia – wanita hanya menyumbangkan selonsongnya saja., dan kemudian memberi janin itu makanan untuk tumbuh. Tetapi benih dari janin itu harus datang dari laki-laki.
Maka menurut Aristoteles, adalah wajar bahwa laki-laki dewasa menguasai budak-budak, anak-anak, dan wanita. Laki-laki menguasai wanita kerena jiwa wanita memang tidak sempurna. Kata family dalam bahasa Inggris, berasal dari kata famulus yang berarti budak domestic dan familia berarti sejumlah budak-budak yang dimiliki oleh seorang laki-laki dewasa, termasuk didalamnya istri dan anak-anak.
Ide tentang wanita lebih lemah dari laki-laki terus dipertahankan oleh hampir semua ahli-ahli filsafat yang terkenal sepanjang sejarah umat manusia. Untuk mengutip beberapa di antaranya :
1. Kant . “ Saya sulit percaya bahwa wanita punya kesanggupan untuk mengerti prinsip-prinsip:
2. Scopenhauer. Wanita dalam segala hal terbelakang. Tidak memiliki kesanggupan untuk berpikir dan berrefleksi ..posisinya ada di antara laki-laki dewasa yang merupakan manusia sesungguhnya dan anak-anak. Pada akhirnya, wanita diciptrakan untuk mengembangkan keturunan.
3. Fichte. Wanita dikuasai, oleh karena itu merupakan keinginannya, keinginan yang lahir dari moral wanita itu sendiri untuk dikuasai
4. Lord Chesterfield. Wanita hanyalah merupakan anak-anak dalam bentuk yang lebih besar. Mereka punya kesanggupan untuk menghibur . kadang-kadang juga jenaka. Tapi untuk berpikir yang berat-berat, sepanjang hidup saya, belum pernah saya temui wanita yang sanggup melakukannya.
5. Benjamin Spock. Wanit pada umumnya lebih sabar untuk mengerjakan pekerjaan yang diulang-ulang, pekerjaan yang tidak menarik. Wanita pada umumnya memiliki kepribadian yang pasif. Saya percaya bahwa wanita dibentuk pada nalurinya yang terdalam untuk menjadi lebih berbahagia kalau mereka tidak bersikap agresif. Tidak hanya secara seksual, tetapi juga dalam kehidupan sosial, dalam pekerjaan dant ugasnya sebagai ibu. Saya pikir kalau wanita diberanikan untuk bersaing dalam kehidupan, mereka akan menjadi tidak menarik. secara biologis dan juga berdasarkan sifat-sifatnya, saya percaya bahwa wanita diciptakan terutama untuk mengurusi anak-anak, suami dan rumah tangga.
6. Theodor Reik. Wanita pada umumnya ingin dicintai sebagaimana dia adanya, sedangkan laki-laki ingin disukai untuk apa yang diperbuatnya.
7. Bruno Bettelheim. Meskipun banyak wanita ingin menjadi sarjana dan insinyur yang baik, pada dasarnya yang pertama dan terutama yang mereka inginkan adalah menjadi teman laki-laki dan ibu dari anak-anaknya.

Ide bahwa wanita lebih lemah dari laki-laki juga di sebarkan oleh agama-agama besar di dunia misalnya :
1. Kekristenan. Alkitab menyatakan bahwa perempuan diciptakan dari tulang rusuk laki-laki (Kj. 2:22 Dan dari rusuk yang diambil TUHAN Allah dari manusia itu, dibangun-Nyalah seorang perempuan, lalu dibawa-Nya kepada manusia itu.)
2. Yahudi dan Ortodoks. Setiap pagi bersembahyang, “ diberkahi dikau oh Tuhan. Raja dari semesta alam, karena saya tidak dilahirkan sebagai seorang wanita”.
3. Islam. Alquran menyatakan. “ Laki-laki lebih berkuasa dari wanita karena sifat-sifat yang diberikan Tuhan kepada laki-laki memang membuatnya lebih kerkuasa”.
4. Hindu. Menyatakan pada masa anak-anak seorang wanita harus di bawah kekuasaan ayahnya, setelah remaja di bawah kekuasaan suaminya, dan kalau suaminya meninggal, di bawah kekuasaan anak laki-lakinya.
5. Konghucu. “lima kelemahan utama wanita yang membuat mereka kesulitan adalah tidak berdisiplin, selalu tidak puas, suka memfitnah, suka cemburu, dan bodoh.. inilah cirri-ciri yang membuat mereka tidak mempercayai diri sendiri dan jadi patuh pada suaminya.

Teori yang barangkali paling dikenal dalam gugus teori nature adalah teori ahli ilmu jiwa Sigmund Freud. Teori Freud yang kemudian dikenal dengan nama teori psikoanalisa, berpokok pada konsep penis envy ( iri pada kelamin laki-laki ). Menurut teori ini, pada saat seorang anak perempuan pertama kali melihat kelamin anak laki-laki, di segera menjadi sadar bahwa dia kekurangan sesuatu. ketika mereka melihat kelamin laki-laki milik saudaranya atau teman bermainnya, alat kelamin ini tampak sebagai sesuatu yang besar, sehingga mereka menjadi sadar bahwa apa yang mereka miliki adalah sangat kecil, dan sejak saat itu mereka jadi kurban perasaan iri hati untuk memiliki kelamin seperti yang mereka lihat pada anak laki-laki. Selanjnutnya anak perempuan itu mengembangkan perasaan rendah diri seumur hidup.
Pada saat anak perempuan itu menjadi dewasa, keinginan untuk memiliki kelamin laki-laki berubah mnenjadi keinginan untuk memiliki bayi. Jadi, kalau laki-laki berkembang menjadi senang kepada wanita, wanita berkembang menjadi senang kepada bayi, sebagai ganti keinginannya untuk memiliki kelamin laki-laki. Kata Freud, “ kebahagiaan seorang wanita akan besar sekali bila bila kemudia keinginannya untuk memiliki bayi menjadi kenyataan, apalagi kalau bayinya ini laki-laki, karena bayi laki-laki membawakan bagiannya kelamin laki-laki.
Kete Millet, seorang Feminis dari Amerika Serikat mengatakan bahwa cara berpikir Feud ini telah berhasil mengubah prestasi wanita yang terbesar, yakni melahirkan anak, menjadi hanya pengganti keinginan untuk memiliki kelamin laki-laki. Wanita hanya baik, menurut teori Freud, kalau dia berhasil menjalankan fungsinya yakni mengembangkan keturunan.
Selanjutnya menurut Freud, kalau wanita tidak berhasil mengganti keinginnannya untuk memiliki alat kelamin laki-laki menjadi keinginan untuk mendapatkan bayi, maka wanita itu akan menjadi neorotik yang salah satu bentuknya menjelma sebagai wanita yang beringkah laku seperti laki-laki
Salah seorang pengikut Freud dalam aliran psikoanalisis ini adalah Erich Fromm. Dia juga mengembangkan teori tentang perbadaan laki-laki dan wanitan meskipun teorinya agak berlainan dengan teori Freud. Dia tidak setuju bahwa nasib wanita ditentukan oleh struktur anatominya. Tapi dia percaya bahwa struktur anatomi ini memberi warna kepada sifat-sifat wanita. Katanya :
” Laki-laki barangkali lebih berbakat untuk pekerjaan-pekerjaan tertentu dan wanita lebih berbakat untuk mengerjakan pekerjaan-pekerjaan tertentu lainnya. Tetapi perbedaan ini pada hakekatnya sama saja dengan perbedaan sifat ekstrovert dan introvert, atau sifat piknis dan astenis dalam diri masing-masing orang”.
Artinya tidak ada cukup dsar untuk memberikan orang ekstrovert pekerjaan di luar rumah tangga, dan orang introvert pekerjaan di dalam rumah tangga, seperti halnya dilakukan kepada laki-laki dan wanita sekarang. Dengan kata lain, meskipun ada perbedaan tempramen antara laki-laki dan perempuan, pembagian kerja seperti yang dilakukan sekarang untuk laki-laki dan wanita pada dasarnya bersifat artificial.
Fromm mendasarkan pendapatnya ini pada perbedaan sikap laki-laki dan wanita ketika mereka melakukan hubungan seksual. Laki-laki harus memuaskan wanita sebagai lawan bersetubuh, sampai wanita mencapai orgasme. Ini berarti laki-laki harus menunjukan kesanggupannya. Pada wanita berlainan, wanita tidak harus membuktikan apa-apa, cukup kalau wanita punya keinginan untuk bersetubuh. Lebih dari itu laki-laki tidak bisa menyembunyikan ketidak sanggupan untuk bersetubuh sedangkan wanita bisa. Menurut Formm, gejala ini merupakan asal mula laki-laki ingin menguasai wanita. Keadaan ini mengakibatkan bahwa kecemasan yang ada pada laki-laki dan wanita dalam menghadapi kehidupanya berbeda. Perbedaan kecemasan ini mengakibatkan timbulnya perbedaan warna kepribadian antara laki-laki dan wanita: laki-laki cenderung untuk berkuasa, sedang wanita cenderung untuk membuat dirinya menarik.
Perbedaan ini hanyalah semacam perbedaan warna kepribadian dari kedua jenis manusia ini. Dan tidak bisa dijadikan dasar yang berbeda bagi laki-laki dan perempuan. Teori Freud yang secara kaku memberikan wanita peran ibu dalam kehidupan mendapat serangan-serangan yang keras sekali. Teori penis envy-nya dikritik karena teori ini tidak memperhatikan faktor-faktor sosial di dalam mana gejala penis envy ini tumbuh. Dalam suatu masyarakat patriakal ( dimana laki-laki berkuasa). Sudah sewajarnya bila wanita iri pada posisi laki-laki. Alat kelamin laki-laki hanyalah merupakan semacam lambang dari kekuasaan sosial laki-laki. Dalam suatu masyarakat yang tidak patriakal, barangkali gejala penis envy ini tidak ada sama sekali.
Melihat secara kongkret begitu bnyak keuntungan-keuntungan yang di berikan kepada laki-laki dengan statusnya yang lebih tinggi di dalam masyarakat, merasakan bagaimana mereka terkurung dari segala kemungkinan untuk mendapatkan hal yang sama. Wanita bukan iri kepada alat kelamin laki-laki. Tetapi iri kepada hak-hak yang diberikan oleh masyarakat kepada makhluk yang memeiliki alat kelamin tersebut. Freud tampaknya sudah membuat sebuah kesalahan yang cukup bodoh karena gagal membedakan antara yang biologi dan kebudayaan antara anatomi dan status sosial.
Millet selanjutnya menunjukan bahwa masih banyak hipotesa-hipotesa yang tidak jelas dalam teori penis envy dari Freud. Dari mana si anak perempuan mendapat ide bahwa yang lebih besar selalu berarti lebih baik dari yang kecil? Mengapa anak perempuan tersebut tidak mengambil badannya sendiri sebagai ukuran dan berpkir bahwa alat kelamin si anak laki-laki sebagai sesuatu yang tidak wajar, semacam penyakit bengkak yang tidak dimiliki si anak perempuan?. Millet melanjutkan kritiknya. Dia berkata, barang pertama yang dilihat oleh seorang anak adalah buah dada ibunya. Dia kemudian melihat bahwa ayahnya tidak memiliki buah dada. Mengapa gejala ini? Mengapa tidak timbul breast envy (iri kepada buah dada) pada anak laki-laki? “ Terlebih lagi, tidakkah sangat mencurigakan bahwa ada sebuah hipotesa yang mengatakan bahwa separuh umat manusia merasa dirinya kurang akan sesuatu karena tidak memiliki sesuatu yang dimiliki oleh separuh umat manusia lainnya(bukan sebaliknya)?”
Teori Freud tentang orgasme wanita juga mengalami kritik yang hebat. Menurut Freud, ketika masih kecil daerah erogen yang paling utama bagi wanita adalah klitorisnya. Ketika berangkat dewasa, daerah erogen seorang wanita yang sehat akan berubah, dari klitoris ke vagina. Kalau perubahan ini tidak terjadi, artinya si wanita masih terus mengandalkan klitorisnya untuk mencapai kepuasan seksual. Maka menurut Freud, wanita-wanita yang masih mengandalkan klitorisnya dianggap mengalami hambatan dalam perkembangan psikoseksualnya. Wanita-wanita yang masih mengandalkan klitorisnya dianggap tidak dewasa, neurotic dan kelaki-lakian. Wanita yang berhasil mangubah daerah erogennya dari klitoris ke vagina dianggap keibuan, kewanitaan, dewasa dan normal. Sampai pada tahun 1966 teori ini masih dipertahankan dalam psikologi, sampai Masters dan Johnson, dua orang ahli psikoseksual Amerika menemukan bahwa semua orgasme wanita pada dasarnya bersumber di klitoris. Teori Freud pada dasarnya tidak benar sama sekali.


Berdasrkan penemuan ini, wanita menjadi sadar bahwa kepercayaan tentang orgasme vaginal merupakan hasil kepercayaan masyarakat patriakal. Kalau kepuasan seksual wanita diperoleh melalui vagina, maka dia akan tergantung pada teganya alat kelamin laki-laki untuk mencapai orgasme, seperti yang diteorikan oleh Fromm. Kepuasan seksual wanita hanyalah pelengkap dari kepuasan seksual laki-laki.
Kalau orgasme boleh dicapai melalui klitoris, maka kepuasan seksual wanita tidak tergantung pada laki-laki. Wanita bisa melakukan hubungan seksual dengan sesame wanita. Seperti halnya laki-laki yang homoseksual. Karena itu sama merdekanya dengan laki-laki dalam hal mencapai kepuasan seksual.
Penelitian-penelitian lain kemudian juga mendapatkan penemuan-penemuan baru yang menyanggah teori orgasme vaginal. Misalnya Kinsey membuktikan bahwa vagina merupakan bagian tubuh yang relative paling tidak sensitive. “ diatara wanita-wanita yang tidak diselidiki ternyata kurang dari 14 persen yang mengatakan bahwa dia merasakan sesuatau kalau vaginanya disentuh”. Juga sudah lama diketahui bahwa tidak dibutuhkan anestasi untuk melakukan pembedahan di daerah vagina. Sebuah bukti lagi bahwa vagina bukan merupakan daerah yang sensitive. Yang mengherankan adalah bagaimana kepercayaan tentang orgasme vaginal ini bisa dipertahankan begitu lama. Bahkan sampai sekarang masih banyak yang mempercayainya. meskipun banyak kenyataan yang menunjukan bahwa vagina wanita adalah daerah yang tidak sensitive. Bersama dengan hancurnya kepercayaan akan orgasme vaginal. Hancur juga analisa yang diberikan oleh teori psikoanalisa. Ketergantungan wanita terhadap alat kelamin laki-laki dalam mencapai kepuasan seksual tidal lagi dapat dibenarkan. Seperti halnya sang guru, Sigmun Freud, Fromm juga gagal memperhitungkan factor-faktor sosial yang ternyata memainkan peranan yang sangat penting dalam tingkah laku seksual seseorang

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar